UKT Mahal, Mahasiswa Sulit Raih Keadilan

UKT Mahal, Mahasiswa Sulit Raih Keadilan

Uang Kuliah Tunggal (UKT) masih meresahkan mahasiswa karena dianggap belum berkeadilan. Mahalnya besaran UKT membuat mahasiswa perlu mengkritisi kembali mengenai mekanisme penetapan setiap orang. Sejumlah komponen lain perlu diperhatikan agar UKT sesuai dengan tujuan awalnya.

“Di titik inilah penulis merasa hal yang perlu saat ini mahasiswa kritisi adalah mengenai

mekanisme penetapan besaran UKT tiap mahasiswa. Bagaimana setiap komponen yang ada dalam berkas pengajuan tersebut akhirnya memunculkan sejumlah angka,” ujar Mahasiswa FEB UI, El Luthfie Arif dalam akun media sosial pribadinya.

Menurut El, hal ini perlu rasanya untuk dibuka secara transparan, tidak perlu ada yang dirahasiakan. Selain itu, komponen pembentuk UKT juga harus benar menggambarkan kondisi perekonomian keluarga mahasiswa. “Saya rasa jika melulu tentang penghasilan dan pengeluaran keluarga maka hasilnya akan itu-itu saja,” tegasnya.

El mengungkapkan, jumlah tanggungan lain

(keponakan atau saudara yang tinggal bersama), jumlah kendaraan dan status, kondisi rumah, status dan lingkungan di sekitarnya, hutang, peralatan elektronik (TV, ac, kulkas), dan komponen lain yang lebih mendetail.

“Ya, ketika komponen tersebut telah masuk dalam penilaian besaran UKT artinya pihak kampus benar-benar memperhatikan kondisi ekonomi keluarga tersebut. Nampaknya ribet dan njelimet? memang. Namun, bukankah kita juga harus ikut mengusahakan agar subsidi dari pemerintah tepat sasaran? Duit rakyat lhooooo,” tuturnya.

Mekanisme penetapan dan komponen penentu, lanjutnya, tidak serta merta mampu membentuk UKT yang adil. Dalam obrolan singkat melalui media sosial dengan rekan di UGM, pihak kampus cukup resisten dengan data yang diberikan mahasiswa yang mengajukan UKT, karna tidak sedikit yang memalsukan data. Bukan hal baru rasanya, dahulu ketika ia mengajukan BOP-B, temannya mengatakan

“Udah kecil-kecilin aja tau, biar murah, gua aja dapet 500 ribu cuma,

” ujar El mengingat perkataan temannya.

El menilai, terhadap hal-hal seperti ini memang tidak dimiliki setiap orang yang artinya akan sulit untuk mewujudkan UKT yang adil. Hal seperti inilah yang harus mendorong kampus untuk melalukan validasi data, menghubungi tentangga keluarga sampai ketua rt, rw, atau bahkan sampai lurah.

“Ya, saya rasa 3 hal diatas lah yang saat ini perlu didorong oleh para mahasiswa baik mereka yang berada dalam lembaga maupun tidak,” katanya

 

Sumber :

https://memphisthemusical.com/